3.02.2011

Ketika Kekurangan Menjadi Kecukupan

Kalian pasti pernah melihat seorang tuna netra yang mahir maemainkan tuts piano, atau seorang pelukis yang tidak memiliki kedua tangan. Mereka dapat melakukan semua itu karena mereka mampu mensubtitusikan sebuah kekurangan menjadi kelebihan, bahkan melebihi kemampuan orang normal pada umumnya.

Telah kita semua ketahui, pola pikir alamiah seorang manusia ialah tidak pernah merasa puas. Misalnya seperti selalu merasa kurang dengan rumah mewah, gadget canggih, kendaraan masa kini, bahkan gaya rambut bak artis sinetron, yang semuanya telah mereka miliki. Di temani kemewahan kemanapun mereka pergi, tetap saja mereka merasa semuanya itu belum cukup. Sampai - sampai ada saja individu yang bahkan berusaha mengoperasi hidungnya hanya agar terlihat seperti bintang hollywood pujaan hatinya.
Dan yang sekarang cerita yang menguap di masyarakat, yaitu semakin banyak anak muda yang merengek membujuk orang tuanya untuk dibelikan ponsel baru oleh orang tuanya. Padahal si anak sudah memiliki ponsel dengan fitur canggih, namun hanya karena diejek teman-temannya kalau ponselnya kalah canggih dengan ponsel yang mereka genggam, ia merengek minta dibelikan ponsel baru yang setara dengan ponsel temanya tersebut. Fenomena ini terlihat seperti tuntutan agar suatu individu dianggap ada oleh suatu kelompok. Tidak habis pikir bagaimana mendefinisikan "kecukupan" ala orang - orang yang selalu merasa kekurangan.

Kalian dapat belajar dari pemulung, yang sering kita lihat semangat memulung sepanjang jalan. "Mood" nya tidak akan rusak hanya karna ia tidak membawa BlackBerry untuk mengupdate status di akun twitter atau facebook. Dia juga selalu berangkat memulung tepat waktu walau tidak menggunakan Kawasaki Ninja sebagai tunggangannya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang perlu diubah dari tatanan rambutnya agar terlihat seperti artis sinetron. Dipikirannya hanya menafkahi keluarganya yang sudah menanti nasi bungkus untuk makan siang di kolong flyover.

Lihat disekitar, seorang pemulung dengan semangat berapi - api, seorang pianis tuna netra, dan seorang pelukis yang tidak memiliki tangan. Masih ada yang lebih kekurangan dari kita. Andai kita memaknai "kecukupan" itu adalah mensyukuri apa yang kita miliki, dengan semua yang diberikan Tuhan oleh kita, dari terbit surya sampai langit berubah jingga. Pasti rasa syukur itu akan mencukupi semua hasrat kalian.

No comments: