8.22.2011
Sorban dan Helm; Antara Hukum, Agama, dan Maut
“Pelindung kepala dari maut: Helm. Pelindung kepala dari hukum: Sorban.”
— Diatas kendaraan roda dua seperti motor, manusia-manusia bersorban seringkali mendapatkan superioritas dari polisi. Biarpun, tidak mengenakan helm, tetapi polisi biasanya akan tetap meloloskan mereka dari masalah tilang-menilang, tidak tahulah atas dasar apa. Yang jelas, bisa lolos dari tilang bukan berarti mereka bisa lolos juga dari maut. Dan setahu saya, bila kita dituntut untuk taat kepada agama, bukankah secara otomatis kita dituntut pula untuk taat kepada hukum?
gambar diambil dari sini
Orang Pintar Lulus Dalam Ujian, Orang Bodoh Berakal Bulus Dalam Ujian
Sebelum ujian :
Orang pintar selalu belajar sebelum mereka menghadapi ujian. Sementara orang bodoh santai-menyantai mondar-mandir keluyuran cari angin segar untuk melepaskan kepenatan dari beban ujian sekolah.
Orang pintar selalu menghafal rumus-rumus aritmatika dan sejenisnya saat pelajaran berlangsung. Dan si orang bodoh masih berusaha menghafal lagu yang dia sukai, di sela-sela jam pelajaran.
Orang pintar selalu memperhatikan tulisan yang ditulis gurunya di papan tulis. Di saat yang sama, si bodoh malah memperhatikan ekspresi guru waktu sedang menulis.
Orang pintar umumnya memilih duduk di deretan bangku terdepan, agar mudah berinteraksi dengan guru. Orang bodoh malah memilih duduk di deretan belakang, agar bisa mempelajari situasi kelas dan memudahkan mereka untuk berinteraksi dengan orang-orang di dalam kelas (tidak hanya guru).
Saat ujian sekolah :
Karna belajar, orang pintar bisa menjawab pertanyaan dengan mudah. Karna kesantaiannya si bodoh sulit menjawab pertanyaan, tapi dia tetap berusaha, bertanya misalnya (tentunya dilakukan secara rahasia).
Berkat rumus yang telah diluar kepala, orang pintar tidak kesulitan dalam mengerjakan soal aritmatika. Sementara si bodoh, dengan kreatifnya membuat catatan kecil di secarik kertas, kulit penghapus, kartu nomor ujian, bahkan ada yang mentatto paha mereka dengan rumus aritmatika. Kreatif bukan?
Karna selalu memperhatikan pelajaran yang ditulis di papan tulis, orang pintar begitu mudah untuk mempecundangi pertanyaan-pertanyaan. Sementara si bodoh, serius mengamati ekspresi si pengawas ujian dan mencari kesempatan untuk menemukan jawaban.
Duduk di depan atau di belakang, bukan masalah bagi orang pintar. Sementara si bodoh yang telah membuat jaringan, dengan mudah berinteraksi dengan teman-temannya untuk mendapatkan jawaban (ini juga masih secara rahasia).
Dan disaat kelulusan :
Orang pintar dan orang bodoh lulus secara bersamaan.
<
Dilihat dari segi ini, orang bodoh cenderung menghadapi kehidupan dengan santai, mudah menjalin relasi, kreatif, tidak terlalu berpikir rumit, dan tidak takut mengambil resiko. Toh tujuan yang dicitakan akan tercapai, meski dengan jalan yang tidak pernah dipikirkan orang-orang sewajarnya. Hal-hal ini yang seharusnya patut dicontoh oleh orang-orang pintar.
gambar diambil dari sini
Sekarang, Semua Kegiatan Manusia Diawali Dengan Nge-twit, seperti :
-Mau tidur. (ngetwit dulu)
-Bangun tidur. (ngetwit dulu)
-Mau mandi. (ngetwit dulu)
-Mau makan. (ngetwit dulu)
-Mau berangkat kuliah/kerja/sekolah. (ngetwit dulu)
-Mau ngerjain tugas. (ngetwit dulu)
-Mau hangout. (ngetwit dulu)
-Mau dengerin lagu. (ngetwit dulu)
-Lagi kesel sama orang. (ngetwit dulu)
-Lagi seneng. (ngetwit dulu)
-Lagi galau. (apalagi, ngetwit melulu)
Bagus sih dampaknya, manusia tidak lagi banyak ‘bicara’. Ya tapi tweet itulah penggantinya. Ada baiknya kalau kita memberikan tweet yang informatif untuk para followers. Mmm… Tapi sesekali ngetwit yang berbau-bau narsis juga tidak apa-apa kok. Sama sekali tidak ada yang melarang. Twitter milik anda, ya anda yang berkuasa.
gambar diambil dari sini
6.09.2011
Vandalis yang Kritis dan Eksotis
Tidak selamanya tindakan vandalis bersifat merusak atau menghancurkan, sebagian tindak vandalis justru bersifat mencipta. Graffiti misalnya, tembok jalan yang tadinya kosong dan terlihat pucat diubahnya menjadi satu galeri seni yang memicu pengendara motor atau mobil untuk sedikit mengarahkan matanya ke tembok-tembok yang telah dibanjiri karya seni cat semprot. Banyak jalan-jalan di Ibukota yang tiap temboknya disulap menjadi ruang rupa, dipenuhi dengan semburan cat semprot yang dikomposisi dengan bentuk, warna, dan volume yang teratur dan tertata rapi. Ini merupakan bukti, bahwa suatu tindakan yang tadinya bersifat vandalis bisa menjadi eksotis jika pengaplikasiannya teratur dan tertata dengan baik. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai suatu tindak perusakan, tetapi saya melihat graffiti disini sebagai suatu tindak penciptan karya seni yang mengekspresikan kehidupan sosial si pembuat graffiti itu sendiri. Selama graffiti itu tidak “nanggung”, saya bisa menghargainya sebagai suatu karya seni.
Setiap pembuat graffiti mempunyai tujuan dan kepentingan di dalam karyanya. Mereka tidak sembarangan mencoret-coret tembok, dalam setiap karyanya mereka menyuarakan isi hati dan “unek-unek” mereka atas setiap kejadian terkini di masyarakat, baik itu dalam masalah politik, pendidikan, ketidakadilan, ataupun untuk menunjukan eksistensi pribadi atau golongan. Karya-karya mereka cukup kritis dan “nyentil” tetapi tetap dalam balutan rupa yang eksotis. Saya ambil contoh Banksy, ia adalah aktivis politik, film director, sekaligus seniman jalanan. Di setiap karyanya ia selalu menyematkan harapannya tentang perdamaian dunia dan kritiknya terhadap ketidakadilan. Saya pikir, mereka para bomber lebih melihat jalan sebagai tempat menuangkan isi hati mereka, jauh dibanding sebagai sarana periklanan oleh billboard atau semacamnya. Saya setuju dengan pendapat mereka, karena dijalananlah kita bisa melihat mimik dari suatu bangsa.
Graffiti disini memang bukan tindakan yang legal, tetapi menurut saya selama si “bomber” mampu menempatkan karyanya dengan rapi, tembok-tembok yang tadinya terlihat miris bisa menjadi penuh warna nan eksotis. Tidak ada istilah legal atau illegal untuk suatu karya seni, seni adalah seni, segala sesuatu yang berhubungan dengan keindahan. Terlepas dari legal atau tidaknya, graffiti hanya masalah bagaimana kita mengapresiasinya.
gambar diambil dari sini
Subscribe to:
Posts (Atom)



